Selasa, 26 Mei 2015

Resensi Novel Negeri 5 Menara Karya A. Fuadi



RESENSI NOVEL NEGERI 5 MENARA
Resensi Novel Negeri 5 Menara Karya A. Fuadi


Judul                            : Negeri 5 Menara
Pengarang                    : A. Fuadi
Penerbit                        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit               : 2009
Tebal Buku                  : 419 Halaman
Warna Kulit                : Coklat

Seumur hidupnya Alif tidak pernah menginjak tanah di luar tanah Minangkabau. Masa kecilnya dilalui dengan berburu durian runtuh di rimba bukit barisan, main bola di sawah dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba dia harus melintasi punggung Sumatra menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur.
Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Arif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah ibunya belajar di Pondok.
Di hari pertama di Pondok Madani (PM). Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dipersatuukan oleh hukuman jewel berantai. Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara mesjid, mereka menunggu magrib sambil menatap awan lembayung yang berarak ke ufuk. Awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka, mereka tidak tahu yang mereka tahu adalah jangan pernah meremehkan impian, walau setinggi apapun Tuhan maha mendengar.
Negri 5 Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi ditulis oleh Ahmad Fuadi mantan wartawan TEMPO & VOA penerima 8 beasiswa luar negeri, penyuka fotografi dan terakhir menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO Konservasi, Alumni Pondok Modern Gontor HI Unpad, George Washington University, dan Royal Holloway University of London ini meniatkan sebagian royalti trilogi ini untuk membangun komunitas menara sebuah lembaga sosial untuk membantu orang yang mampu dengan basis sukarelawan.
Bahasa yang digunakan dalam novel Negeri 5 menara ini sangat menarik dan mudah dipahami sehingga dibaca berkali-kali pun pembaca tidak akan bosan. Layak dibaca pada ibu yang bermimpi membesarkan anak-anak terbaik. Dan dapat mengasah kecerdasan emosi dan spiritual.