Minggu, 24 Mei 2015

Sejarah Perang Diponegoro (Contoh Makalah)



SEJARAH PERANG DIPONEGORO
Sejarah Perang Diponegoro (Contoh Makalah)


Sejak kedatangan Belanda di Jawa, kerajaan Mataram semakin merosot, wilayah kerajaan semakin sempit karena banyak wilayah diambil oleh Belanda sebagai imbalan atas bantuannya.
1.      Latar Belakang Perang Diponegoro
Ada beberapa hal yang menyebabkan pangeran Diponegoro turun tangan.
·         Sebab-sebab umum
-          Kerajaan Mataram semakin kecil dan kewibawaan mulai merosot bersamaan dengan itu wilayah pecah menjadi empat kerajaan kecil yaitu Surakarta, Ngoyakarta, Mangku Negara, dan Paku Alam.
-          Kaum bangsawan merasa kurang penghasilannya, karena wilayah yang dulu dibagi-bagikan kepada bangsawan kini diambil pemerintahan Belanda.
-          Rakyat yang mempunyai beban khusus, seperti kerja raudi, pajak tanah, merasa tertindas begitu pula pemungutan pajak dipungut oleh orang tiongha dengan sifat memberat beban rakyat.
·         Sebab-sebab Khusus
Pembuatan jalan melalui makam Pangeran Diponegoro di Tegal rejo.

2.      Jalannya Perang Diponegoro
Pangeran Diponegoro bersama Pangeran Mangkubumi berhasil melarikan diri ke luar koto dan memusatkan pasukan di Salarong, kemudian Hamengkubuwono V yang masih kanak-kanak dibawa ke benteng Belanda dan salah satu pertempuran yang dahsyat terjadi di Plered.
Selain dibantu oleh Pangeran Mangkubumi dan beberapa bangsawan lainnya, Diponegoro juga dibantu oleh Sentot Alibasa Prawidjo dan Kiai Moho di Surakarta. Kiai Mojo berhasil menyebarkan perang jihat di Ngoyakarta, Surakarta, Begelan dan sekitarnya.
Pasukan-pasukan Diponegoro diberi nama Artiyo, Turkioyo, dan lain-lain.
Pada tahun 1826 terjadi pertempuran di Ngalekong, dengan hasil pasukan Diponegoro mengalami kemenangan gemilang, yang mengharumkan nama Pangeran Diponegoro. Rakyat menobatkan Sultan dengan gelar (Sultan Hamid Herutjokro Amirul Muk Minin Saidin Panatagana Kalifatullah Tanah Jawa) penobatan ini berlangsung di daerah Dekso.
Dalam pertempuran di Gaok, terjadi perselisihan antara Pangeran Diponegoro dengan Kiai Mojo, mengenai masalah keagamaan.
Tahun 1829 merupakan waktu yang sangat kritis bagi Pangeran Diponegoro, satu persatu pengikutnya mulai meninggalkan dan memisahkan diri setelah Kiai Mojo, disusul juga oleh Sentot yang menginginkan perang terbuka dan menolak siasat perang gerilya.
Sentot Ali Basa, akhirnya menyerah ke Belanda setelah syarat-syarat yang diajukan diterima oleh Belanda. Syarat-syarat tersebut pemberian pinjaman 10.000 ringgit tetap mempunyai barisan 1000 orang diberi senjata 5000 senapan dan tetap memeluk agama Islam yaitu tanggal 20 Oktober 1829 di Yogyakarta.

3.      Akhir Perang Diponegoro
Kolonel Clerens berhasil mengadakan perundingan pendahuluan sekitar bulan Februari 1830 dan selanjutnya Maret 1830 perundingan itu berhasil dilaksanakan antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda (diwakili oleh Jendral Kock) dalam perundingan Pangeran Diponegoro menginginkan sebuah negara merdeka dipimpin oleh Sultan juga ingin menjadi Amirul Mukminin di seluruh tanah Jawa dan kepala negara bagi masyarakat Islam.
Dalam persetegangan itu Pangeran Diponegoro ditangkap dan ditawan di Manado dan Makasar (benteng Roterdam) Pangeran Diponegoro meninggal 8 Januari 1855.