Selasa, 01 September 2015

Sejarah Kerajaan Islam Aceh


KERAJAAN ISLAM ACEH
Sejarah Kerajaan Islam Aceh


a.      Letak Kerajaan
Kerajaan Aceh berkembang sebagai kerajaan Islam dan mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Perkembangan pesat yang dicapai Kerajaan Aceh tidak lepas dari letak kerajaannya yang strategis, yaitu di Pulau Sumatera bagian utara dan dekat dengan jaur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu. ramainya aktivitas pelayaran perdagangan melalui banda-bandar perdagangan Kerajaan Aceh, mempengaruhi perkembangan kehidupan Kerajaan Aceh dalam segala bidang, seperti aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.
Kerajaan Aceh dirintis oleh Mudzaffar Syah pada abad ke-15. Pusat kerajaan dibangun di atas puing-puing Kerajaan Lamuri, sebelah barat laut Samudra Pasai. Status kerajaan penuh diraih semasa pemerintahan Ali Mughayat Syah sebagai hasil penyatuan dua kerajaan, yakni Lamuri dan Dar al-Kalam.
Kerajaan Aceh berkembang sebagai kerajaan Islam dan mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Perkembangan pesat Kerajaan Aceh tidak terlepas dari letak Kerajaan Aceh yang strategis, yaitu di pulau Sumatera bagian utara dan dekat jalur pelayar dan perdagangan internasional pada saat itu. ramainya aktivitas pelayaran dan perdagangan melalui bandar perdagangan Kerajaan Aceh mempengaruhi perkembangan kehidupan Kerajaan Aceh dalam segala bidang, seperti di bidang politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
b.      Kehidupan Politik
Mengenai kapan berdirinya Kerajaan Aceh, tidak dapat diketahui dengan pasti. Berdasarkan Bustanussalatin (1637 M) karangan Nuruddin Ar-Raniri yang berisi silsilah sultan-sultan Aceh, dan berdasarkan berita orang-orang Eropa, diketahui bahwa Kerajaan Aceh telah berhasil membebaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pedir. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Aceh adalah :
Kerajaan Aceh yang terletak di ujung barat Pulau Sumatera pernah diperintah oleh raja-raja berikut ini.
1.      Sultan Ali Mughayat Syah
Ali Mughayat Syah adalah raja pertama Kerajaan Aceh. Ia memerintah dari tahun 1514-1528. di bawah kekuasaannya, Kerajaan Aceh melakukan perluasan ke beberapa daerah yang berada di wilayah Sumatera Utara, seperti daerah Daya dan Pasai. Bahkan ia mengadakan serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka serta menyerang Kerajaan Aru.
2.      Sultan Salahuddin
Setelah Sultan Ali Mughayat Syah meninggal, pemerintahan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Sultan Salahuddin. Ia memerintah dari tahun 1528-1537. Selama berkuasa, Sultan Salahuddin kurang memperhatikan kerajaannya. Akibatnya, kerajaan mulai goyah dan mengalami kemunduran. Oleh sebab itu, pada tahun 1537 Sultan Salahuddin digantikan oleh saudaranya yang bernama Sultan Alauddin Riayat Syah.
3.      Sultan Alauddin Riayat Syah
Sultan Alauddin Riayat Syah memerintah Aceh sejak tahun 1537-1568. Di bawah pemerintahannya, Aceh berkembang menjadi bandar utama di Asia bagi pedagang muslim mancanegara. Sejak Malaka direbut Portugis, mereka menghindari Selat Malaka dan beralih menyusuri pesisir barat Sumatera, ke Selat Sunda, lalu terus ke timur Indonesia atau langsung ke Cina.
Kedudukan strategis Aceh menjadikannya sebagai bandar transit lada dari Sumatera dan rempah-rempah dari Maluku. Kedudukan itu diraih bukan tanpa hambatan, sebab Aceh harus menghadapi rongrongan Portugis. Guna memenangkan persaingan, Aceh membangun angkatan laut yang kuat. Kerajaan itu pun membina hubungan diplomatik dengan Turki Ottoman yang dianggap pemegang kedaulatan Islam tertiggi waktu itu.
4.      Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda memerintah Aceh dari tahun 1607-1636 M. Di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengalami kejayaannya. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan Islam, bahkan menjadi bandar transito yang dapat menghubungkan dengan pedagang Islam di dunia Barat.
Untuk mencapai kebesaran Kerajaan Aceh, Sultan Iskandar Muda meneruskan perjuangan Aceh dengan menyerang Portugis dan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaya. Tujuannya adalah menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menguasai daerah-daerah penghasil lada. Sultan Iskandar Muda juga menolak permintaah Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatera bagian barat. Disamping itu, Kerajaan Aceh melakukan pendudukan terhadap daerah-daerah seperti Aru, Pahang, Kedah, Perlak, dan Indragiri, sehingga di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas.
Pada masa kekuasaannya terdapat dua orang ahli tasawwuf yang terkenal di Aceh, yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syech Ibrahim as-syamsi. Setelah Sultan Iskandar Muda wafat, tahta Kerajaan Aceh digantikan oleh menantunya yang bergelar Sultan Iskandar Thani.
Pemerintahan Sultan Iskandar Muda menandai puncak kejayaan Kerajaan Aceh. Ia naik takhta pada awal abad ke-17 menggantikan Sultan Alauddin Riayat Syah. Untuk memperkuat kedudukan Aceh sebagai pusat perdagangan, ia memelopori sejumlah tindakan sebagai berikut :
Ø  Sultan Iskandar Muda merebut sejumlah pelabuhan penting di pesisir barat dan timur Sumatera, serta pesisir barat Semenanjung Malaya. Misalnya, Aceh sempat menaklukkan Johor dan Pahang.
Ø  Sultan Iskandar Muda menyerang kedudukan portugis di Malaka dan kapal-kapalnya yang melalui Selat Malaka. Aceh sempat memenangkan perang melawan armada Portugis di sekitar Pulau Bintan pada tahun 1614.
Ø  Sultan Iskandar Muda bekerja sama dengan Inggris dan Belanda untuk memperlemah pengaruh Portugis. Iskandar Muda mengizinkan persekutuan dagang kedua negara itu untuk membuka kantornya di Aceh.
5.      Sultan Iskandar Thani
Berbeda dengan pendahulunya, Sultan Iskandar Thani lebih memperhatikan pembangunan dalam negeri dari pada politik ekspansi. Oleh sebab itu, meskipun hanya memerintah selama empat tahun, Aceh mengalami suasana damai. Hukum yang berdasarkan syariat Islam ditegakkan, bukannya kekuasaan sewenang-wenang. Hubungan dengan wilayah takhlukan dijalin dalam suasana liberal, bukan melalui tekanan politik atau militer.
Masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani juga ditandai oleh perhatian terhadap studi agama Islam. Berkembangnya studi agama Islam turut didukung oleh kehadiran Nurduddin ar-Raniri, seorang ulama besar dari Gujarat yang menulis kitab sejarah Aceh yang berjudul Bustanu’s Salatin. Sepeninggal Iskandar Thani, Aceh mengalami kemunduran. Aceh tidak mampu berbuat banyak saat sejumlah wilayah taklukan melepaskan diri. Kerajaan itupun tidak mampu lagi berperan sebagai pusat perdagangan. Meskipun demikian, Kerajaan Aceh tetap berlanjut sampai memasuki abad ke-20.
Setelah ia wafat, tahta kerajaan dipegang oleh permaisurinya (putri Iskandar Muda) dengan gelar Putri Sri Alam Permaisuri (1641-1675 M).

c.       Penyebab Kemunduran Kerajaan Aceh
Ø  Setelah Iskandar Muda wafat tahun 1636, tidak ada raja-raja besar yang mampu mengendalikan daerah Aceh yang demikian luas. Di bawa Sultan Iskandar Thani (1637-1641), sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu mulai terasa dan terlebih lagi setelah meninggalnya Sultan Iskandar Thani.
Ø  Timbul pertikaian yang terus-menerus di Aceh antara golongan bangsawan (teuku) dengan golongan ulama (teungku) mengakibatkan melemahnya Kerajaan Aceh. Antara golongan ulama sendiri pertikaian karena perbedaan aliran dalam agama (aliran Syi’ah dan Sunnah wal Jama’ah).
Ø  Daerah-daerah kekuasaannya banyak yang melepaskan diri, seperti Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau, dan Siak. Negara-negara itu menjadikan daerahnya sebagai negara merdeka kembali, kadang-kadang dibantu oleh bangsa asing yang menginginkan keuntungan perdagangan yang lebih besar.

Kerajaan Aceh yang berkuasa + empat abad, akhirnya runtuh karena dikuasai oleh Belanda pada awal abad ke-20.

d.      Kehidupan Ekonomi
Karena letaknya di jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan. Selat Malaka, Kerajaan Aceh menitikberatkan perekonomiannya pada bidang perdagangan. Di bawah pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah, Aceh berkembang menjadi bandar utama di Asia bagi para pedagang mancanegara. Bukan hanya bangsa Inggris dan Belanda yang berdagang di pelabuhan Aceh, melainkan juga bangsa asing lain seperti Arab, Persia, Turki, India, Siam, Cina dan Jepang.
Barang yang diperdagangkan dari Aceh, antara lain lada, beras, timah, emas, perak dan rempah-rempah (dari Maluku). Barang yang berasal dari mancanegara (impor), antara lain dari Koromandel (India), porselin dan sutra (dari Jepang dan Cina), dan minyak wangi (dari Eropa dan Timur Tengah). Selain itu, kapal perdagangan Aceh aktif dalam melakukan perdagangan sampai ke Laut Merah.

e.       Kehidupan Sosial
Struktur sosial masyarakat Aceh terdiri dari empat golongan, yaitu golongan teuku (kaum bangsawan yang memegang kekuasaan pemerintahan sipil), golongan teungku (kaum ulama yang memegang peranan penting dalam keagamaan), hulubalang atau ulebalang (para prajurit), dan rakyat biasa. Antara golongan teuku dan teungku sering terjadi persaingan yang kemudian melemahkan Aceh.
Sejak Kerajaan Perlak berkuasa (abad ke-12 sampai dengan abad ke-13) telah terjadi pemusuhan antara aliran syiah dan ahlusunah wal jamaah. Namun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, aliran syiah mendapat perlindungan dan berkembang ke daerah kekuasaan Aceh. Aliran itu diajarkan oleh Hamzah Fansuri dan dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Syamsuddin Pasai. Setelah Sultan Iskandar Muda wafat, aliran ahlusunnah wal jamaah berkembang dengan pesat di Aceh.

f.       Kehidupan Budaya
Kehidupan budaya di Kerajaan Aceh tidak banyak diketahui karena Kerajaan Aceh tidak banyak meninggalkan benda hasil budaya. Perkembangan kebudayaan di Aceh tidak sepesat perkembangan perekonomian. Peninggalan kebudayaan yang terlihat nyata adalah bangunan Masjid Baiturrahman dan buku Bustanu’s Salatin yang ditulis oleh Nuruddin as-Raniri yang berisi tentang sejarah raja-raja Aceh.