Selasa, 05 April 2016

Sejarah Lengkap Kerajaan Bali (Kerajaan Hindu-Budha Di Indonesia)

A.    Lokasi Kerajaan
Kerajaan Bali terletak di satu pulau kecil yang tidak jauh dari Jawa Timur. Dalam perkembangan sejarahnya, Bali mempunyai hubungan erat dengan Pulau Jawa karena letak kedua pulau ini berdekatan. Bahkan ketika Kerajaan Majapahit runtuh, banyak rakyat Majapahit yang melarikan diri dan menetap di sana. Sampai sekarang ada kepercayaan bahwa sebagian dari masyarakat Bali dianggap pewaris tradisi Majapahit.


Sejarah Lengkap Kerajaan Bali (Kerajaan Hindu-Budha Di Indonesia)

B.     Sumber Sejarah
Sumber-sumber tentang Kerajaan Bali dapat diketahui melalui beberapa sumber, seperti sumber-sumber berita dari Kerajaan Bali (misalnya berita dari Jawa) dan juga bangunan-bangunan candi.
·         Prasasti
Prasasti Sanur (839 C/917 M) Prasasti Sanur merupakan salah satu prasasti yang ditemukan oleh para ahli. Prasasti ini menunjukkan adanya kekuasaan raja-raja dari Wangsa atau Dinasti Warmadewa.
Prasasti Calcuta, India (1042 M) Dalam prasasti ini disebutkan tentang asal-usul Raja Airlangga, yaitu dari keturunan raja-raja Bali, Dinasti Warmadewa. Raja Airlangga terakhir dari pernikahan Raja Udayana (Kerajaan Bali) dengan Mahendradata (putri Kerajaan Medang Kemulan adik Raja Dharmawangsa).
·         Bangunan Candi
Kompleks Candi Gunung Kawi (Tampak Siring) merupakan pendharmaan dari raja-raja Bali yang dibangun pada saat pemerintahan Raja Anak Wungsu.





C.    Kehidupan Politik
Mengingat kurangnya sumber-sumber atau bukti dari Kerajaan Bali, maka sistem dan bentuk pemerintahan raja-raja Bali kuno tidak dapat di ketahui dengan jelas. Raja-raja Bali kuno yang pernah berkuasa di antaranya : Raja Sri Kesari Warmadewa. Raja Sri Warmadewa adalah raja pertama dan pendiri Dinasti Warmadewa. Pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa yang mempunyai istana di Singhadwala berhasil diketahui dari Prasasti Sanur (835 C/913 M). dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Sri Kesari Warmadewa berhasil mengalahkan musuhnya didaerah pedalaman.
Raja Ugrasena (915-942 M) memerintahkan Kerajaan Bali menggantikan Raja Sri Kesari Warmadewa. Pusat pemerintahannya terletak di Singhadwala. Masa pemerintahan Raja Ugrasena meninggalkan 9 buah prasasti. Prasasti-prasasti itu berisi tentang pembebasan pajak terhadap daerah-daerah tertentu. Di samping itu, juga terdapat prasasti yang memberitakan tentang pembangunan tempat-tempat suci.
Sistem dan bentuk pemerintahan pada masa itu sudah teratur, terutama tentang pemberian tugas kepada pejabat-pejabat istana.
Raja Tabanenora Warmadewa menjadi raja Bali menggantikan Raja Ugrasena. Ia memerintah bersama permaisurinya yang bernama Sang Ratu Luhur Subhadrika Dharadewi Masa pemerintahan dari Raja Tabanendra Warmadewa tidak diketahui, sebab kurangnya berita-berita dari prasasti yang menyangkut pemerintahan dari raja tersebut.
Raja Jayaningha Warmadewa Pengganti Raja Tabanendra Warmadewa adalah Raja Jayasingha Warmadewa. Namun, bagaimana bentuk sistem pemerintahan dan keadaan kerajaan tidak dapat diketahui secara pasti.
Raja Jayasadhu Warmadewa masa pemerintahan raja inipun tidak berhasil di ketahui dengan pasti.
Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi Pada tahun 983 M, Kerajaan Bali diperintah oleh seorang raja putri yang bernama Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Tetapi asal-usul putri ini tidak pernah di ketahui dengan jelas. Namun ada beberapa ahli yang menafsirkan bahwa ia adalah putri Raja Mpu Sindok (Dinasti Isyana).
Dharma Udayana Warmadewa. Setelah masa pemerintahan Sri Maharaja Sri Mahadewi, Kerajaan Bali diperintah oleh Dharma Udayana Waarmadewa (989-1022 M) dan permaisurinya yang bernama Mahendradata (Gunapria Dharmapatni), masih keturunan Mpu Sindok.
Pada masa pemerintahannya, hubungan Kerajaan Bali dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur berjalan baik. Pada masa inilah penulisan prasasti-prasasti dengan menggunakan huruf dan bahasa Jawa kuno dimulai.
Rasa Marakata. Dengan meninggalnya Raja Udayana, maka kerajaan Bali diperintahkan oleh putranya yang kedua, yaitu Raja Marakata. Namun ia memerintahkan tidak terlalu lama dan tahun 1025 M meninggal dunia. Sistem dan bentuk pemerintahannya tidak dapat diketahui dengan jelas.
Raja Anak Wungsu. Melalui berita-berita dari prasasti-prasasti dapat diketahui bahwa Raja Anak Wungsu (1049-1077 M) adalah Raja Bali yang berhasil mempersatukan seluruh wilayah Bali. Pada sama pemerintahannya, kehidupan rakyat aman dan sejahtera. Rakyat hidup dari bercocok tanam dan beternak. Di samping itu sudah terdapat kelompok-kelompok pekerja di dalam  masyarakat sebagai berikut.
  • Pandai besi, emas, dan tembaga. Mereka ini memiliki keahlian dalam membuat alat-alat rumah tangga, senjata, perhiasan dan lain sebagainya.
  • Tukang kayu, batu, bangunan rumah, dan lain sebagainya.
  • Golongan pedagang dan saudagar. Golongan saudagar laki-laki disebut wiragrama dan saudagar perempuan disebut wiragrami. Raja juga memberikan perhatian cukup besar pada masalah-masalah keagamaan dengan menjamin kesejahteraan para petapa.
Jayasakti
Jayasakti memerintahkan dari tahun 1133-1150 M dan sezaman dengan pemerintahan Jayabaya di Kediri. Dalam menjalankan pemerintahannya, Jayasakti dibantu oleh penasehat pusatyang terdiri atas para senapati dan pimpinan keagamaan baik dari Hindu maupun Budha. Kitab undang-undang yang digunakan adalah kitab Utara Widdhi Balawan dan Kitab Rajawacana.
Ragajaya
Ragajaya mulai memerintah tahun 1155 M. kapan berakhir masa pemerintahannya belum dapat diketahui karena tidak ada sumber tertulis yang menjelaskannya.
Jayapangus
Raja Jayapangus dianggap penyelamat rakyat yang terkena malapetaka akibat lalai menjalankan ibadah. Jayapangus menerima wahyu dari dewa untuk mengajak rakyat kembali melakukan upacara agama yang sampai sekarang dan di peringati sebagai upacara Gulungan. Kitab undang-undang yang digunakan adalah kitab Mana Wakamandaka. Raja Jayapangus memerintah pada tahun 1172-1176.
Ekajalancana
Ekajalancana memerintah sekitar tahun 1200-1204 Masehi. Dalam memerintah, Ekajalacana dibantu ibunya yang bernama Sri Maharaja Aryadegjaya.
Sri Astasura Bumi Banten
Sri Astasura Ratna Bumi Banten adalah raja Bali yang terakhir. Bali ditakhlukkan oleh Gajah Mada dan menjadi wilayah taklukan Kerajaan Majapahit.

D.    Aspek Kehidupan Sosial
Struktur masyarakat yang berkembang pada masa Kerajaan bali Kuno didasarkan pada hal sebagai berikut :
  1. Sistem Kasta (Caturwarna)
Sesuai dengan kebudayaan Hindu di India, pada awal perkembangan Hindi di Bali sistem kemasyarakatannya juga dibedakan dalam beberapa kasta. Namun, untuk masyarakat yang berada di luar kasta disebut budak atau njaba.
  1. Sistem Hak Waris
Pewarisan harta benda dalam suatu keluarga dibedakan atas anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki memiliki hak waris lebih besar dibandingkan anak perempuan.




  1. Sistem Kesenian
Kesenian yang berkembang pada masyarakat Bali kuno dibedakan atas sistem kesenian keraton dan sistem kesenian rakyat.
  1. Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Bali Kuno meskipun sangat terbuka dalam menerima pengaruh dari luar, mereka tetap mempertahankan tradisi kepercayaan nenek moyangnya. Dengan demikian, di Bali dikenal ada penganut agam Hindu, Budha dan kepercayaan animisme.
Masyarakat Bali Kuno juga hidup dalam keteraturan dan taat menjalankan hukum. Hal itu juga disebabkan oleh keteladanan para pemimpin negara yang taat hukum. Bahkan, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayaksati yang sezaman dengan masa pemerintahjan raja Jayabaya dari Kediri, raja sangat patuh pada hukum yang berlaku, raja melaksanakan pemerintahan berdasarkan kitab Undang-Undang Utara Waddhi Balawan dan Rajawacana.
Ada hal yang menarik dalam sistem keluarga Bali yang berkaitan dengan pemberian nama anak, misalnya Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Untuk anak pertama golongan brahmana dan kesatria disebut Putu. Diperkirakan pemberian nama seperti itu dimulai pada zaman Raja Anak Wungsu dan ada kaitannya dengan upaya pengendalian jumlah penduduk.
Kehidupan sosial dalam masyarakat Bali, yaitu masyarakat terbagi dalam kasta-kasta yang disebut caturwarna. Ketika kerajaan Majapahit berhasil menguasai Bali, terbentuklah golongan masyarakat baru yang disebut Wong Majapahit. Wong Majapahit adalah orang-orang keturunan penguasa dan penduduk Kerajaan Majapahit.

E.     Aspek Kehidupan Ekonomi
Kegiatan ekonomi masyarakat Bali dititikberatkan pada sektor pertanian. Hal itu didasarkan pada beberapa prasasti Bali yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bercocok tanam. Beberapa istilah itu, antara lain sawah, parlak (sawah kering), kebwan (kebun), gaga (ladang), dan kasuwakan (irigasi).
Diluar kegiatan pertanian pada masyarakat Bali juga ditemukan kehidupan sebagai berikut 

1)      Pande (Pandai = Perajin)
Mereka mempunyai kepandaian membuat kerajinan perhiasan dari bahan emas dan perak, membuat peralatan rumah tangga, alat-alat pertanian dan senjata.
2)      Undagi
Mereka mempunyai kepandaian memahat, melukis, dan membuat bangunan.
3)      Pedagang
Pedagang pada masa Bali Kuno dibedakan atas padagang laki-laki (wanigrama) dan pedagang perempuan (wanigrami). Mereka sudah melakukan perdagangan antar pulau (Prasasti Banwa Bharu).

F.     Aspek Kehidupan Kebudayaan
Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu sangat besar sekali pada masyarakat Bali. Bahkan, sampai sekarang dapat dikatakan bahwa mayoritas penduduk Bali adalah penganut agama Hindu. Agama Budha juga berkembang di Bali meskipun tidak sepesat perkembangan agama Hindu. Bahkan, pada masa pemerintahan Raja Udayana, agama Budha juga mendapat tempat sejajar dalam kehidupan kerajaan. Hal itu tentu saja menunjukkan betapa toleransinya rakyat Bali pada agama yang lain.
Seperti telah disebutkan di depan bahwa kesenian Bali juga mengalami perkembangan pesat, meskipun dibedakan atas kesenian rakyat dan kesenian keraton. Hal ini bukan berarti rakyat tidak bisa menikmati bentuk kesenian keraton. Prasasti julah (987 Saka/1065 Masehi) memberi keterangan adanya kesenian untuk raja (ihaji) dan kesenian yang melakukan pertunjukkan berkeliling (ambaran).
Seni sastra tradisional juga berkembang dan digemari rakyat Bali. Karya sastra Bali pada awalnya merupakan teks sastra kuno yang dikarang di Jawa berdasarkan cerita Ramayana dan Mahabarata. Syair dan tulisan prosa tentang berbagai hal yang berhubungan dengan agama dan sejarah lokal yang di buat di Jawa pada abad ke-10 sampai dengan ke-16 dialihkan ke Bali. Mulai abad ke-16, orang bali mulai menciptakan sastra mereka sendiri berdasarkan cerita klasik Jawa Kuno. Penggunaan bahasa Bali sebagai sastra baru digunakan pada akhir abad ke-18 untuk cerita rakyat, terjemahan karya klasik, dan syair yang dibuat di Bali.
Kehidupan kebudayaan lain yang juga sampai pada kita sekarang adalah peninggalan berupa candi, prasasti, dan pura.

Contoh prasasti peninggalan Kerajaan Bali, antara lain Prasasti Blanjong (tahun 914 M) dan Prasasti Air Hwang (1011). Peninggalan kebudayaan Kerajaan Bali yang lain adalah kelompok Candi Padas di Gunung Kawi dan Pura Agung Besakih.