Rabu, 04 Mei 2016

Pemahaman Siswa Tentang Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Dalam Pembelajaran Budaya Alam Minangkabau

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam menghadapi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dimasa era globalisasi pada saat sekarang ini. Sangat mempengaruhi perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia khususnya di Minangkabau. Berkurangnya nilai-nilai agama dan tatakrama kesopanan yang dialami dikalangan remaja dan anak-anak sekolah. Sehingga pendidikan itu tak berarti walaupun dia sekolah tetapi kelakuannya tidak mencerminkan ia itu berpendidikan. Sehingga disinilah peran mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau khususnya yang berada di Sumatera Barat untuk memperbaiki akhlak anak-anak sekolah yang tidak sesuai pada tempatnya.
Di lihat dari sekolah yang peneliti datangi, masih banyak tingkah laku siswanya yang tidak mencerminkan budaya orang Minangkabau, contohnya sikap yang terlalu cuek dan tidak mau menghargai orang lain dan tidak megetahui bahasa isarat yang diberikan oleh guru kepadanya. Didalam mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau sudah diterangkan bagaimana tata krama kesopanan orang Minangkabau, bagaimana cara berbicara kepada orang yang lebih besar dan basa-basi yang telah digariskan oleh nenek moyang orang Minangkabau yang dikenal dengan Kato Nan Ampek.
Disinilah peneliti merasa tertarik meneliti tentang kemampuan siswa kelas III SLTP N 12 Padang tentang Pembelajaran Budaya Alam Minangkabau dalam pemahaman adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Berdasarkan informasi yang peneliti dapatkan bahwa guru yang mengajarkan Budaya Alam Minangkabau bukanlah guru bidang studi yang bersangkutan, tetapi guru bidang studi lain yang kekurangan jam pelajaran. Sehingga siswa kesulitan untuk mempelajari Budaya Alam Minangkabau karena guru-guru tersebut hanya membaca buku yang akan diberikan kepada siswanya.

B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidentifikasikan masalahnya sebagai berikut : 1) Guru yang mengajar mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau bukanlah guru yang bersangkutan. 2) Kurangnya sarana dan prasarana dalam pembelajaran Budaya Alam Minangkabau. 3) Berkurangnya pelajaran Budaya Alam Minangkabau dari dua jam menjadi satu jam.

C.    Batasan Masalah
Untuk lebih terarahnya penelitian ini maka perlu melakukan batasan masalah. Batasan masalahnya adalah sebagai berikut : Guru yang mengajar mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau bukan guru bidang studi yang bersangkutan. Bagaimana kemampuan siswa kelas III di SLTP N 12 Padang tentang Pelajaran Budaya Alam Minangkabau dalam pemahaman adat basandi syarak, syarak basandikan kitabullah.

Pemahaman Siswa Tentang Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Dalam Pembelajaran Budaya Alam Minangkabau


D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas dapat dirumuskan masalahnya dalam bentuk pertanyaan yaitu 1) Bagaimana kemampuan siswa dalam pembelajaran Budaya Alam Minangkabau?, 2) Bagaimana sikap siswa di lingkungan sekolah setelah mempelajari Budya Alam Minangkabau tersebut?, 3) Apa kendala yang dihadapi dalam pembelajaran Budaya Alam Minangkabau tersebut ?

E.     Tujuan Penelitian
Tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kemampuan siswa kelas III SLTP N 12 Padang tentang Pembelajaran Budaya Alam Minangkabau didalam pemahaman adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah dan penerapannya didalam lingkungan sekolah dan masyarakat.

F.     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi segala pihak. Pihak yang dimaksud adalah sebagai berikut 1) Guru mengemban tugas mengajar mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau, 2) Siswa, untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran Budaya Alam Minangkabau, 3) Peneliti sendiri, kegiatan ini melatih kemampuan peneliti didalam melakukan penelitian, 4) Instalasi pemerintah, penelitian ini bisa dijadikan rujukan untuk meningkatkan pelajaran Budaya Alam Minangkabau.

BAB II
KERANGKA TEORITIS

A.    Kajian Teori
1.      Pengertian
Adat basandi syarak adalah adat Minangkabau yang berdasarkan kepada syariat Islam. Artinya ajaran adat yang diterapkan dalam masyarakat harus berpedoman kepada ajaran agama Islam, sedangkan syarak basandi kitabullah artinya adalah syariat Islam berdasarkan kitabullah. Kitabullah adalah wahyu Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Sesuai dengan ungkapan “Syarak mengato, adat mamakai”. (Zulkarnaini, 1996).

2.      Adat dan Islam
Sebelum Islam masuk ke Minangkabau, orang Minangkabau memanfaatkan alam sebagai sumber ajarannya. Mereka menggali nilai-nilai alam ciptaan Allah sebagai sumber ajarannya. Hal itu mereka ungkapkan dalam falsafah Alam takambang jadi guru. Artinya alam sebagai pedoman dan ditiru dalam masyarakat Minangkabau.
Masuknya Islam ke Minangkabau, pada hakikatnya tidak ada pertentangan dengan adat Minangkabau karena adat Minangkabau yang mereka jalankan berasal dari alam ciptaan Allah. Itulah sebabnya masyarakat langsung menerima Islam di Minangkabau. Masyarakat di Minangkabau berusaha menyesuaikan ajaran Islam kedalam tata kehidupan beradat. Masyarakat Minang telah di mulai sejak masyarakat Minang menerima ajaran Islam sebagai agama mereka.

3.      Budi dan Akhlak
Inti ajaran adat Minangkabau adalah budi-budi yang dianut oleh masyarakat Minangkabau berpedoman kepada alam ciptaan Allah. Sedangkan inti (hakikat) ajaran agama Islam adalah akhlak. Akhlak yang berpedoman kepada syariat Islam. Antara akhlak dan budi hampir persamaan, yakni aturan dan ketentuan yang diberikan kepada manusia untuk berhubungan dengan yang maha pencipta, berhubungan sesamanya dan berhubungan dengan alam lingkungan.
Ajaran tentang budi di sampaikan dalam “kato-kato”. Setiap tindakan dan perbuatan dalam aspek kehidupan selalu berdasarkan kepada budi baik dan budi luhur. Ungkapan itu antara lain :
Nan kuriak, nan merah sago
  Nan baiak budi, nan indah baso”

Dek ribuik rabahlah padi,
Di cupak Datuak Katumanggungan
Hiduik kok indak babudi
Duduak tagak kamari cangguang

Babelok babilin-bilin
Batungkek batang kaladi
Rupo elok kami tak ingin,
Budi baiak nan kami cari.

Hubungan manusia diikat oleh budi, dari ikatan budi itu lahirlah “Kato nan ampek” yakni :
Kato mandata, kato manurun, kato mandaki, kato malereng.
Artinya kato mandata adalah kata yang digunakan untuk sesama besar, kato manurun adalah kata yang digunakan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda, kato mandaki adalah kata yang digunakan orang yang lebih muda kepada orangyang lebih tua, dan kato malereng adalah kata yang digunakan oleh orang yang kita segani.

4.      Penerapan Adat dan Islam
Di Minangkabau ajaran adat dilaksanakan, ajaran agama diamalkan. Keduanya berjalan seimbang. Hal ini dapat dilihat dari adanya ikatan pemimpin “Tungku Tigo Sajarangan” (Penghulu, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai). Penghulu sebagai pemangku adat, alim ulama sebagai ahli agama dan cadiak pandai sebagai cendikiawan.
Persyaratan berdiri nagari di Minangkabau juga menunjukkan bahwa adat dan Islam juga menjadi patokan. Syarak itu diantaranya adalah babalai bamusajik, artinya balai tempat bermusyawarah bagi pemangku adat, musajik tempat melaksanakan ajaran agama Islam, ibadah kepada Allah belajar agama Islam.

B.     Penelitian Relevan
Penelitian tentang pemahaman siswa tentang adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah dalam pembelajaran Budaya Alam Minangkabau di kelas III SLTP Negeri 12 Padang. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengetahuan siswa tentang adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Menunjukkan bahwa sebagian siswa yang benar-benar menguasai dan memahami apa yang diberikan gurunya tentang pelajaran budaya alam minangkabau khususnya dalam pemahaman adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
Berdasarkan sepengatahuan peneliti dan yang telah peneliti telusuri belum adanya penelitian tentang pemahaman siswa tentang “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah dalam pelajaran Budaya Alam Minangkabau”, untuk itu peneliti ingin meneliti bagaimana kemampuan siswa kelas III SLTP N 12 Padang.

BAB III
RENCANA PENELITIAN

A.    Latar, Entri dan Kehadiran Peneliti
Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif atau kata-kata tertulis atau lisan tentang orang-orang dan perilaku yang diamati. Sedangkan metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.
Latar dari penelitian ini dilakukan di SLTP Negeri 12 Padang yang letaknya tidak terlalu jauh di kota. Dan merupakan sekolah peneliti waktu di SLTP. Sedangkan entri dalam penelitian ini adalah suasana keakraban antara seorang siswa dengan gurunya dan seorang kakak dengan adiknya. Kehadiran peneliti di lapangan di ketahui oleh informasi sebagai berikut.

B.     Informan Peneliti
Informasi dalam penelitian ini adalah guru kesenian yang mengajarkan Budaya Alam Minangkabau di SLTP Negeri 12 Padang. Penentuan informan berdasarkan kriteria, yaitu 1) Umur informan minimal 20 tahun dengan asumsi informan telah mempunyai kemampuan berbicara dengan baik. 2) Informan tidak buta huruf, berpendidikan dan mampu berkomunikasi dengan lancar, dan 3) Informan tidak cadat bicara mlenbeek (dalam samarin, 1998 : 52).

C.    Instumentasi
Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri melaksanakan obervasi dan wawancara. Obervasi yang digunakan untuk mengamati langsung kelapangan tentang pembelajaran Budaya Alam Minangkabau. Wawancara digunakan untuk mengajukan pertanyaan guru agar hasil wawancara itu terarah.

D.    Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah : 1) Studi lapangan, melakukan obervasi lapangan yaitu peneliti langsung mengamati di lapangan dan mewawancarai informan dengan ungkapan tradisional Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari, 2) Teknik wawancara langsung kepada informan yang telah ditetapkan, 3) Studi perpustakaan, untuk mendapatkan referensi yang akan menunjang penelitian.

E.     Teknik Analisis Data
Langkah-langkah dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Identifikasi data, memeriksa yang telah terkumpul yang diperoleh melalui obervasi dan wawancara, 2) Klasifikasi data, yaitu mengelompokkan data yang terkumpul sesuai dengan identifikasi masalah diatas, 3) Interpretasi dan analisis data, setelah data terkumpul di klasifikasikan dengan indentifikasi masalah penelitian, selanjutnya penulis melakukan penganalisisan terhadap data tersebut, 4) Kesimpulan, pengambilan kesimpulan dari data yang telah disesuaikan.

F.     Jadwal Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SLTP Negeri 12 Padang pada hari rabu tanggal 30 April 2008.
No
Kegiatan
Bulan
1
2
3
4
5

1
2
Observasi
Tes Wawancara


30 April
30 April







BAB IV
PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Data
Dari hasil tes yang dilakukan, maka diperoleh data. Data sampel terkumpul sebanyak 30 orang yang berasal dari 3 kelas yang mana diambil sebanyak 10 orang per kelas yang dipilih secara proporsional random sampling. Dari data yang terkumpul akan tergambar sampai dimana pemahaman siswa SLTP N 12 Padang tentang ABS-SBK dalam pembelajaran Budaya Alam Minangkabau.
Dalam bagian ini ada 2 data / hal yang perlu dideskripsikan
1.      Data yang berhubungan dengan skor yang diperoleh masing-masing responden.
2.      Data yang berhubungan dengan klasifikasi nilai responden.
Agar lebih jelasnya skor yang diperoleh masing-masing responden, maka penulis menggambarkan skor tersebut dalam bentuk tabel berikut ini :
Tabel 1
Distribusi Skor Mentah Siswa
No
Pemeriksaan I
Pemeriksaan II
Jumlah
Skor
1
2
3
4
5
6
9
9
9
8
8
8
9
9
9
8
8
8
18
18
18
12
12
12
44
44
44
39
39
39
No
Pemeriksaan I
Pemeriksaan II
Jumlah
Skor
7
8
9
10
11
12
13
14
15
12
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
8
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
6
6
6
6
6
6
6
6
8
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
6
6
6
6
6
6
6
6
12
14
14
14
14
14
14
14
14
14
14
14
14
14
14
14
14
12
12
12
12
12
12
12
39
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
32
32
32
32
32
32
32
32





B.     Analisis Data
Pada tabel 1 diatas tampaklah skor mentah yang diperoleh masing-masing siswa untuk komponen teori skor tertinggi adalah 9 dan yang terendah adalah 6.
Maka berdasarkan jumlah bobot masing-masing soal, dapat ditetapkan skor maximalnya yaitu : 100
No
No. Kode

Nilai
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
12
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
12
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
44/50 x 100%
44/50 x 100%
44/50 x 100%
39/50 x 100%
39/50 x 100%
39/50 x 100%
39/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
36/50 x 100%
32/50 x 100%
32/50 x 100%
32/50 x 100%
32/50 x 100%
32/50 x 100%
32/50 x 100%
32/50 x 100%
32/50 x 100%
88
88
88
78
78
78
78
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
64
64
64
64
64
64
64
64

Setelah perhitungan nilai setiap responden diperoleh, nilai selanjutnya dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat kurang, cukup, lebih dari baik, baik sekali. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel III berikut ini.
No
No. Kode Sample
Nilai Yang Benar
Nilai
Klasifikasi
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
12
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
12
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
44
44
44
39
39
39
39
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
36
32
32
32
32
32
32
32
32
88
88
88
78
78
78
78
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
72
64
64
64
64
64
64
64
64
B
B
B
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
C
Baik
Baik
Baik
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Lebih dari cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari kemampuan siswa SLTP N 12 Padang tentang pemahaman siswa mengenai ABS-SBK dalam pembelajaran Budaya Alam Minangkabau, maka dapat digolongkan keadaan kategori belum tercapai tujuan yang diinginkan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor   yaitu :
1.      Faktor dari guru
Masih belum adanya guru yang benar-benar terampil untuk mengajar Budaya Alam Minangkabau , hal ini dapat kita lihat misalnya guru yang mengajar Budaya Alam Minangkabau di SLTP N 12 Padang pada dasarnya adalah guru Kesenian, Sejarah dan guru Bahasa Indonesia. Dengan demikian otomatis guru tersebut kurang paham / tidak banyak yang mengetahui ilmu Budaya Alam Minangkabau tersebut. Namun karena adanya tuntutan untuk mengajar Budaya Alam Minangkabau terpaksalah ilmu yang dangkal ini diajarkan. Nah dari sini dapatlah kita lihat bagaimana jadinya ilmu tersebut sampai kepada siswa.

2.      Faktor kurangnya sarana prasarana yang mendukung
Sarana dan prasarana sangat mendukung siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah (buku-buku dan alat-alat peraga). Tanpa hal ini proses belajar mengajar akan bersifat monoton buku mosalnya tidak adanya buku yang lengkap atau buku yang disusun secara umum (pedoman umum) seperti mata pelajaran lainnya. Alat peraga/median juga akan sangat mendukung tercapainya tujuan yang diinginkan dalam PBB. Contoh : kalau belajar tentang pakaian penghulu hendaknya pakaian penghulu tersebut langsung dibawa dan diperlihatkan kepada siswa diwaktu menjelaskan  pakaian penghulu tersebut. Akan tetapi kenyataan yang penulis lihat dilapangan bertolak belakang dengan yang dinyatakan diatas.
3.      Faktor dari siswa
Siswa masih banyak yang kurang serius dalam belajar Budaya Alam Minangkabau. Karena mereka bilang mereka sudah belajar Budaya Alam Minangkabau yang dipepalajari cuma itu-itu saja. Mulai dari rumah sampai ke sekolah mereka sudah belajar Budaya Alam Minangkabau yang diajarkan cuma selalu itu-itu saja. Padahal zaman sudah berkembang (kurangnya minat dan kesadaran), dan kalau ditanya nantik tentang Budaya Alam Minangkabau mereka tidak bisa menjawab.

BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
a.       Kegagalan dalam pengajaran Budaya Alam Minangkabau / tidak sesuai dengan yang diinginkan disebabkan oleh 3 faktor.
1)      Faktor dari guru yaitu : tidak adanya guru yang terampil dalam ilmu Budaya Alam Minangkabau yang mengajar Budaya Alam Minangkabau.
2)      Faktor kurangnya sarana dan prasarana yang menunjang.
3)      Faktor dari siswa.
b.      Berdasarkan data yang telah diambil tujuan dalam pembelajaran Budaya Alam Minangkabau belum bisa dikatakan tercapai / memuaskan.
c.       Sebagian besar siswa berada dalam kisaran nilai lebih dari cukup.

B.     Saran
a.       Sarana dan prasarana perlu dilengkapi oleh pihak Dinas Pendidikan dan Sekolah agar tujuan pendidikan bisa tercapai.
b.      Para siswa hendaknya sadar betapa pentingnya mempelajari Budaya Alam Minangkabau supaya budaya asli kita tidak digeser oleh orang lewat.
c.       Hendaknya guru yang mengajar Budaya Alam Minangkabau adalah guru yang benar-benar dipersiapkan untuk mengajar Budaya Alam Minangkabau tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Zukarnain. (1996). Budaya Alam Minangkabau. Bukittinggi : Usaha Ikhlas
LKAAM. (2000). Pengetahuan Adat Minangkabau.

Samarin, William. J. 1998. Ilmu Bahasa Lapangan. Yogyakarta : Kanisius

Moleong, Lexy. J. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.